Rahasia Fosil Hidup Coelacanth Terbongkar - Berita Terbaru Misteri besar tentang asal-muasal hewan bertungkai perlahan mulai
terkuak. Sebuah penelitian internasional di Broad Institute, pusat
penelitian biomedis dan genetika di Cambridge, Amerika Serikat, berhasil
menerjemahkan urutan genom coelacanth, si "fosil hidup". Ikan purba
yang hidup di perairan Sulawesi Utara ini diyakini sebagai nenek moyang
amfibi, reptil, unggas, hingga mamalia.
Coelacanth sempat dikira punah pada akhir masa Cretaceous 65 juta
tahun lalu, hingga sebuah spesimen ditemukan di Sungai Chalumna di
timur Afrika Selatan pada 1938. Bentuknya sangat mirip dengan kerangka
fosil coelacanth yang berusia lebih dari 300 juta tahun. Pencetus teori
evolusi, Charles Darwin, menjulukinya "fosil hidup".
Ikan ini disebut fosil hidup karena coelacanth masih
mempertahankan struktur dan bentuk tubuhnya selama jutaan tahun.
Coleacanth seolah tidak ikut berevolusi seperti binatang lain.
"Gen coelacanth berkembang lebih lambat dibanding ikan jenis lain
dan vertebrata daratan," kata Jessica Alföldi, seorang peneliti di
Broad Institute, seperti dikutip laman Sciencedaily, 18 April lalu.
Tim peneliti berhipotesis bahwa coelacanth berubah sangat lambat
karena memang belum membutuhkan alasan untuk berevolusi. Ikan itu selama
ribuan tahun memilih tinggal pada kedalaman laut dengan sedikit
gangguan. Adaptasi ini menjadikannya satu dari segelintir hewan yang
relatif tidak banyak berubah selama kurun waktu evolusi.
"Coelacanth cocok tinggal di habitat ekstrem dengan kondisi
lingkungan yang nyaris tidak pernah berubah," ujar direktur ilmiah dan
pakar genetik vertebrata Broad Institute, Kerstin Lindblad-Toh.
Coelacanth tergolong ikan penghuni dasar laut. Panjang tubuhnya
bisa mencapai 170 sentimeter dan berbobot 60 kilogram. Ada sekitar 120
spesies coelacanth berdasarkan penemuan fosil. Namun, kini hanya tersisa
dua spesies yang masih hidup, yaitu Latimeria chalumnae di lepas pantai
Afrika timur dan Latimeria menadoensis di perairan Sulawesi Utara,
Indonesia.
Ciri unik ikan yang oleh penduduk Manado dinamai "ikan raja laut"
ini terletak pada dua sirip dada, dua sirip perut, dan satu sirip anal.
Tulang sirip coelacanth berongga di bagian dalam, sementara bagian
luarnya diselimuti daging yang cukup tebal. Sekilas bentuk siripnya
terlihat seperti tungkai, bahkan ikan ini menggerakkan siripnya seolah
tengah berjalan ketika bergerak di dasar laut.
Alföldi mengatakan urutan genom coelacanth memungkinkan para
ilmuwan menguji pertanyaan yang telah lama diperdebatkan: mengapa ikan
ini memiliki sirip bak tungkai seperti pada hewan yang hidup di
darat--dikenal sebagai tetrapoda. Sirip coelacanth seakan berfungsi
layaknya kaki atau tangan.
Coelacanth sebenarnya bukan satu-satunya pemilik sirip-tungkai.
Ciri sirip serupa juga dijumpai pada ikan paru-paru (lungfish) dari
genus Protopterus.
Ciri unik kedua ikan ini yang membuat pendapat para ilmuwan
terbelah. Mereka mencari ikan mana yang paling bertanggung jawab
melahirkan garis keturunan awal amfibi, kelompok hewan berkaki empat
pertama yang keluar dari air menuju darat. Nah, di sinilah pentingnya
pemetaan genom coelacanth.
Alföldi dan timnya merekonstruksi sekitar 2,8 miliar unit DNA
dari tubuh coelacanth. Data bejibun itu dihimpun dari pengurutan genom
coelacanth Afrika. Mereka juga membedah dan mengurai genom lungfish.
Kemudian gen penentu otak, ginjal, hati, limpa, serta usus pada
coelacanth dan lungfish dilacak dan dipetakan secara rapi.
Data genom itu lantas dibandingkan dengan set genom 20 spesies
vertebrata lainnya. Mereka harus mengetahui secara pasti spesies mana
yang lebih berkerabat dekat dengan hewan darat. "Ternyata tetrapoda
lebih berkaitan erat dengan lungfish daripada coelacanth," ucap
Lindblad-Toh mengungkapkan hasil penelitian yang diterbitkan dalam
jurnal Nature.
Bagi Alföldi dan Lindblad-Toh, pertanyaan utama telah terjawab.
Mereka akhirnya dapat memastikan bahwa lungfish merupakan cikal-bakal
amfibi, reptil, unggas, dan mamalia. Namun, kesimpulan ini tidak
serta-merta meminggirkan data genom coelacanth. Ikan purba itu tetap
memegang kunci untuk menjawab bagaimana proses peralihan organisme dari
ekosistem perairan menuju daratan.
Lindblad-Toh mengatakan genom lungfish--berisi 100 miliar unit
DNA--terlalu rumit untuk diurutkan, dirakit, dan dianalisis. Sedangkan
genom coelacanth, yang jumlahnya setara dengan panjang genom manusia,
jauh lebih sederhana untuk dibaca. Ini sangat memudahkan tim peneliti
pada saat membandingkannya dengan set genom hewan darat. "Kami bisa
melacak perubahan genetik yang memungkinkan tetrapoda awal berkembang di
darat," ujar Alföldi.
Mereka meneliti sistem kekebalan tubuh, fisiologis, pancaindra,
dan perkembangan evolusi coelacanth. Ikan fosil itu, menurut Alföldi,
mengalami perubahan gen yang terlibat dalam persepsi bau dan mendeteksi
aroma di udara. Hipotesis sementara menunjukkan, sebagai makhluk yang
bergerak dari laut ke darat, coelacanth membutuhkan cara baru untuk
mendeteksi bahan kimia di lingkungan sekitar mereka.
Gen yang mengatur sistem kekebalan tubuh coelacanth juga berubah.
Perubahan ini, menurut Lindblad-Toh, berkaitan dengan respons
coelacanth terhadap patogen baru yang ditemui di darat. Kuman patogen
penyebab penyakit di laut dan daratan tentu berbeda.
Keunikan lain dijumpai pada siklus urea di sistem uropoetika yang
berperan mengatur konsentrasi cairan berupa urine di dalam tubuh.
Coelacanth menyingkirkan nitrogen dari dalam tubuh dengan mengeluarkan
amonia ke dalam air. Mekanisme ini berbeda dengan manusia dan hewan
darat lainnya yang cepat mengubah amonia menjadi urea yang bersifat
kurang toksik menggunakan siklus urea. "Gen yang berperan penting dalam
siklus ini telah dimodifikasi pada tetrapoda," kata Lindblad-Toh.
Yang menakjubkan tentu perkembangan evolusi coelacanth. Tim
peneliti menemukan beberapa area genetik kunci yang diduga kuat berperan
dalam pembentukan tungkai, jari tangan dan kaki, serta plasenta mamalia
pada tetrapoda. Salah satu area ini, dikenal sebagai HoxD, menempel
pada urutan genom yang sama pada coelacanth ataupun tetrapoda. Ada
kemungkinan tetrapoda telah mengkooptasi urutan genom ini dari
coelacanth untuk membantu membentuk tangan dan kaki.
Toh, semua temuan itu masih belum menjawab seluruh misteri di
balik evolusi munculnya hewan bertungkai. Namun, menurut Profesor Chris
Amemiya dari Universitas Washington, pengurutan genom coelacanth secara
lengkap tetap menjadi batu pijakan berharga. Coelacanth merupakan
spesies langka. Tidak gampang memperoleh sampel ikan ini untuk
penelitian. "Para ilmuwan hanya memiliki satu kesempatan untuk
menuntaskan pengurutan genom," kata pakar biologi ini mengomentari
temuan Broad Institute. SCIENCEDAILY | NY TIMES | MAHARDIKA SATRIA HADI
0 opmerkings